STUDI BANDING DENGAN NATIONAL SCIENCE FOUNDATION AMERIKA

Dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia dalam pembangunan ekonomi berbasis inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, Riset-Pro Komponen 2 menggandeng National Science Foundation (NSF) Amerika Serikat sebagai mitra studi banding dalam focus group discussion (FGD). Ellen McCallie, Katharina Dittmar, dan Fahmida Chowdhury hadir mewakili NSF dalam FGD yang berjalan secara daring tersebut. NSF merupakan bagian dari pemerintah namun memiliki independensi dalam pengelolaan pendanaan riset yang dikelola.

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman dalam pengelolaan dana penelitian yang mereka lakukan di Amerika Serikat. Dibahas juga secara mendalam strategi untuk mendukung penciptaan inovasi berdaya saing tinggi di Indonesia, melalui skema investasi, kelembagaan, dan penyaluran pendanaan. FGD yang berlangsung pada hari Jumat, 11 September 2020, ini dibuka oleh Mego Pindandito, Plt. Sekretaris Utama Kemenristek/BRIN, dan dihadiri juga oleh Fahdiansyah Putra, Kepala Divisi Seleksi Riset LPDP, serta perwakilan dari DIPI, BPDPKS, USAID, Newton Fund, Filantropi Indonesia, KSI, dan Lembaga pengelola dana riset di Indonesia lainnya yang merupakan anggota Indonesia Research Funder Forum (IRFF).

Pada kesempatan tersebut NSF menceritakan bahwa seluruh sumber pendanaan NSF berasal dari US Congress (lembaga legislatif bikameral dari pemerintahan federal Amerika Serikat). US Congress memberikan alokasi dana ke NSF setiap tahun dan bisa digunakan hingga maksimal 7 tahun ke depan.NSF menerapkan review proposal melalui proses seleksi ketat yang sifatnya merit-based, dimana seluruh proses, proposal, kriteria seleksi dan review dapat dilakukan secara transparan dan dokumennya bisa diakses dengan mudah oleh publik sebagai rujukan. NSF menyediakan dana untuk kegiatan riset dan untuk pengembangan institusi riset, khusus di Amerika Serikat. Pada saat ini, NSF lebih sering memberikan standard award daripada continuing award yang berkelanjutan.

Pada praktiknya, NSF menyediakan unit khusus di lembaga penelitian yang membantu peneliti untuk menyiapkan proposal, mengelola dan mengawasi keuangan program. “Di NSF ada satu project officer untuk masing-masing peneliti utama (principal investigator/ PI)” papar Katharina Dittmar. Lebih lanjut, NSF menceritakan bahwa tidak semua hasil riset dapat begitu saja dikembangkan aplikasinya. Seluruh terobosan selalu dimulai dengan riset dasar, bahkan riset dasar yang mungkin sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya.

Ellen McCallie menyampaikan bahwa NSF tidak memiliki skema pengelolaan dana abadi. Pendanaan yang diterima langsung diteruskan melalui awards dan grants (dana hibah) ke peneliti. NSF juga memiliki kolaborasi dan memberikan pendanaan untuk organisasi non-pemerintah (NGO) dalam bentuk partnership bersama. Evaluasi secara substansial dilakukan oleh rekan sejawat di ranah riset masing-masing. Oleh karena itu, NSF tidak memiliki kewenangan terhadap hak atas kekayaan intelektual (intellectual property) dari riset yang dilakukan. Dengan adanya studi banding dengan NSF ini, Kemenristek/BRIN melalui program Riset-Pro akan menindaklanjutinya dengan merumuskan suatu policy brief untuk praktik pengelolaan dana penelitian di tanah air.