Peneliti Dipermudah untuk Mengajukan Proposal Riset

Direktur Sistem Riset dan Pengembangan, Malikuz Zahar memberi sambutan kepada peserta uji coba, pelatihan sistem informasi di Gedung 124, Pusdiklat Ristek/BRIN, Tangerang Selatan, 3 September 2020.

Para pengusul proposal riset dari setiap lembaga riset universitas maupun Lembaga Penelitian Non-Kementrian (LPNK) akan dimudahkan dalam mendaftarkan usulan riset mereka di Sistem Informasi Manajemen Prioritas Riset Nasional atau SIM-PRN. Perubahan ini bisa dijumpai di tahapan awal pendaftaran.

Asep Hermawan Suyanto, konsultan pengembang situs SIM-PRN, menjelaskan terjadi penyesuaian di dalam website untuk menampung usulan riset institusi pemerintah ini. “Dibandingkan dengan tahun 2019 SIM-PRN sekarang lebih sederhana terutama pada tahap pendaftaran, pengusul proposal tidak perlu mengisi banyak kolom, operator cukup memilih produk pebelitiannya saja,” ucapnya.

Total ada lima tahapan yang harus dilalui oleh para peneliti untuk bisa mengunggah proposal yang diajukan. Untuk halaman pendanaan riset operator harus mengisi dana usulan, dana yang diberikan oleh institusi dan mitra di luar institusi.

Kapasitas proposal juga ditambah menjadi 100 MB. Sebelumnya banyak dikelukan oleh para peneliti karena dianggap terlalu kecil sehingga sulit untuk memasukan proposal yang memiliki ukuran yang besar. SIM-PRN merupakan website untuk menampung proposal riset yang diajukan oleh peneliti yang terdaftar di Universtias maupun Lembaga Penelitian Non-Kementrian (LPNK). Situs ini dikelola oleh Kemenristek/ BRIN

Direktur Sistem Riset dan Pengembangan, Malikuz Zahar, menambahkan penyesuaian ini dilakukan untuk penyesuaian kebutuhan sistem informasi. Selain itu perubahan ini juga menyesuaikan kebutuhan  Susunan Rincian Kerja atau Work Breakdown Strucutre (WBS) di tahun 2020.

Penyesuaian SIM-PRN ini masih dalam uji coba yang dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 3-5 September, di Gedung 124 kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang Selatan. Ditaregetkan perubahan SIM-PRN sudah dapat digunakan bagi para operator institusi mulai bulan depan.

Winastwan Gora Konsultan Komponen 2 RISET-Pro menambahkan uji coba ini juga bertujuan untuk melatih pengelola sistem informasi riset dan pengembangan. Mereka diharapakan mampu mengelola sistem informasi riset dan pengembangan secara mandiri.

“Dari sistem-sistem yang saat ini telah ada seperti SIM-PRN, Simlitabmas, Insinas serta Sistem Informasi Eksekutif MonevRisbang yang saat ini dikelola oleh Deputi Riset dan Pengembangan Kemenristek/BRIN, dengan begitu keberlanjutan pengembangan dan pemeliharaan sistem dapat terjaga” tutupnya.

(Bam/Riset-Pro)