Pemberian Insentif Bagi Inventor

Untuk mendorong terciptanya sebuah sebuah teknologi atau inovasi, pemerintah akan memberikan insentif bagi para inventor di lingkungan Lembaga Pemerintah Nonkementrian (LPNK). Insentif ini juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja dari unit alih teknologi (Technology Transfer Office, TTO) di lingkup LPNK.

Inventor merupakan seorang atau beberapa orang yang bersarna-sama menemukan ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang menghasilkan invensi atau karya. Usulan insentif untuk para inventor itu dibahas dalam forum diskusi yang diadakan oloeh Komponen 1 (Sub Komponen 1.B.3.2) Riset-Pro Kemenristek/BRIN di IPB, kampus Baranangsiang, Bogor, Jumat, 11 September 2020.

Pada diskusi ini dibahas mengenai mekanisme verifikasi dan finalisasi sistem insentif untuk komersialisasi teknologi di LPNK. Dalam diskusio ini juga dibahas aturan pemberian insentif yang ditargetkan akan mulai direalisasaikan pada awal tahun depan. Ermia Sofiyessi, Konsultan dari Center of System, memaparkan ada tiga skema insentif yang akan diberikan.

          Insentif pertama berupa piagam atau trofi, lalu kedua pemberian royalti berupa uang yang berasal dari inovasi yang berhasil dijualkan kepada industri. Ketiga, dalam bentuk pemberian kenaikan jabatan. “Untuk royalti pemberian uangnya mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 72,” jelasnya.

          Rencana pembuatan aturan untuk pemberian insentif disambut baik oleh para perwakilan LPNK yang ikut diskusi secara daring. “Pemberian insentif diharapkan juga dapat diterima oleh inventor yang telah memasuki massa pensiun,” usul Abdul Latif dari BPPT.

             Acara diskusi ditutup oleh Yani Sofyan, Kepala Subdirektorat Pengembangan Sistem Riset dan Pengembangan Kemenristek/ BRIN, yang berharap aturan ini dapat segera diterbitkan. “Insentif ini dapat digunakan untuk mendukung program Technology Transfer Office (TTO) di LPNK dan untuk kemajuan IPTEK di tanah air,” harapnya. 

(Bam/ Riset-Pro)