Cegah Kebakaran Hutan dengan Citra Satelit

Ratusan  ribu hektare hutan di Indonesia hangus terbakar api setiap tahunnya. Berdasarkan data sistem monitoring Karhutla milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam enam tahun terakhir kebakaran hutan terbesar terjadi pada tahun 2015.

Luas hutan yang terbakar di tahun itu mencapai 2,6 juta hektare. Akibatnya sejumlah provinsi di tanah air hingga negara tetangga Singapura diselimuti asap. Meluasnya Kebakaran hutan dapat dicegah dengan menjaga laju persebaran titik api atau hotspots.

Upaya itu dapat dilakukan dengan penginderaan jauh yang memanfaatkan citra satelit  Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS). Dari satelit ini kita dapat memonitor persebaran jumlah titik api yang berpotensi mengakibatkan hutan terbakar.

Metode ini diungkap Sutomo, alumni peserta tugas belajar pendidikan gelar Riset-Pro Kemenristek/BRIN tahun 2013 hingga 2017. Dia menjabarkan penelitiannya itu dalam jurnal ilmiah internasional terindeks yang berjudul Spatial And Temporal Patterns Of Fires In Tropical Savannas of Indonesia atau Pola spasial dan temporal kebakaran di sabana tropis Indonesia. Jurnal ini dia  susun di Edith Cowan University, Joondalup, Australia.

Sutomo meneliti kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia dari tahun 2000 hingga 2013. Selama 14 tahun itu dia menemukan terjadi peningkatan jumlah titik api. Hotspost terbanyak pada tahun 2002 yaitu sebanyak  4554 titik dan tahun 2010 mencapai 1899 titik.

Jumlah titik api selama periode yang diamatinya itu mengalami fluktuatif. Hal ini dipengaruhi oleh Indeks Osilasi Selatan atau anomali perbedaan tekanan udara permukaan pada kondisi normal.  Titik api paling banyak muncul di kawasan hutan terbuka atau sabana di Nusa Tenggara Timur sebanyak 14.918 titik api luas wilayah yang terbakar 46811 Kilometer persegi. Din Nusa Tenggara Barat 2665 titik yang menghanguskan 19694 Kilometer persegi.

Sementara di Kalimantan jumlah titik api sebanyak 584 titik, walaupun jumlahnya lebih sedikit dari NTT dan NTB  tetapi areal yang terbakarnya lebih luas yaitu 537 ribu kilometer persegi. Disusul Sumatera dengan jumlah titik apinya 240 titik luas wilayah hutan yang terbakar mencapai 512 ribu kilometer persegi.

Sebagian besar kebakaran yang terdeteksi terjadi di tengah musim kemarau dan di Indonesia bagian timur yang lebih kering. Selain itu, dengan memanfaatkan pencitraan satelit MODIS ini kita dapat melihat pola persebaran titik dan memperkirakan jumlah titik api sehingga langkah-langkah preventif untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan.