3 Cara Menentukan Nilai Sebuah Riset

Sulitnya menentukan nilai ekonomi dari sebuah riset menjadi kendala peneliti untuk memasarkan hasil penemuannya. Contohnya Mobile Laboratorium Bio Safety Level 2. Salah satu inovasi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Truk yang sudah dimodifikasi ini dapat digunakan untuk pemeriksaan spesimen COVID-19. Inovasi ini menjadi solusi untuk mempercepat pemeriksaan specimen jika tertampung di laboratorium yang ada di rumah sakit.

Teknologi yang dibutuhkan di massa pandemi ini masih belum dapat diproduksi secara komersial karena belum dapat ditentukan nilainya. Persoalan yang menjadi sandungan para peneliti itu dibahas dalam forum diskusi Riset-Pro Kemenristek/BRIN yang digelar di Kampus Institut Pertanian Bogor, Jalan Pajajaran Selasa, 31 Agustus 2020.

Dalam focus group discussion (FGD) ini, dibahas cara penghitungan nilai dari sebuah riset. Menurut Peneliti dari Center of System, Ir. Sugiyono, M.Si., ada tiga metode yang dapat digunakan. Pertama yaitu cost base yaitu semua biaya yang dikeluarkan selama proses riset menjadi dasar menentukan nilai atau valuasi.

Metode selanjutnya income base yaitu memperkirakan harga sebuah riset setelah diproduksi dan dijual ke pasar. Keuntungan dari penjualan itu menjai bagian valuasi dari hasil inovasi itu. Metode ketiga yaitu market base cara ini membandingkan dengan harga teknologi serupa yang sudah terlebih dulu dipasarkan.

Menanggapi metode itu, Profesor Eriyanto, MSAE, Konsultan Sub-komponen 1.B.3.2. Riset-Pro, mengungkapkan komersialisasi teknologi diperlukan untuk menyerap riset dan penelitian agar lebih bermanfaat. Namun metode perhitungan itu masih perlu dikaji lebih lanjut. “ Selain menghitung biaya, valuasi juga harus memperhatikan kaulitas dan kuantitatas dari hasil sebuah gagasan,” rangkum Eri.