SERAH TERIMA JABATAN KEMENRSITEKDIKTI-KEMENRISTEK/BRIN

Jakarta, 23 Oktober 2019 – Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan susunan kabinet kerja yang diberi nama Kabinet Indonesia Maju yang berisi 34 menteri dan empat kepala lembaga setingkat menteri yang akan membantunya dalam mencapai visi misi pemerintah lima tahun kedepan yaitu pembangunan sumber daya manusia. Bersamaan dengan pengumuman ini, ada sejumlah nomenklatur baru, salah satunya yaitu Kemenristekdikti yang kembali dipisah yaitu Ristek menjadi Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional, kemudian Dikti yang kembali bergabung dengan Kemendikbud.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi periode 2014-2019, Mohamad Nasir melepaskan jabatannya sebagai Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan menyerahkan tampuk kepemimpinan untuk dilanjutkan kembali kepada Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional 2019-2024, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. Kegiatan serah terima jabatan itu dilakukan di Gedung D Kemenristekdikti, Pintu satu Senayan. Acara serah terima jabatan turut dihadiri pejabat eselon I, II, III dan IV beserta staf di lingkungan Kemenristekdikti.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi periode 2014-2019, Mohamad Nasir, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional 2019-2024. Nasir mengungkapkan bahwa Menteri Bambang adalah sosok yang merintis Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) maupun UU dan Peraturan Presiden terkait RIRN. Nasir berharap Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional serta jajarannya dapat segera menyelesaikan dengan cepat dan baik tata kelola organisasi terkait pemisahan Ristek dan Dikti, untuk masa depan Indonesia yang lebih maju, dan ia juga berharap agar Indonesia maju bisa tercapai dalam pemerintahan Presiden Jokowi periode kedua ini. Nasir berpesan kepada pejabat eselon I, eselon II, dan eselon III di lingkungan Kemenristekdikti agar bisa beradaptasi, bekerja lebih keras dan lebih cepat, serta agar apa yang dicita-citakan bisa terlaksana.

Pada kesempatan ini, Nasir menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pejabat di lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dan LPNK. Diakhir sambutannya, Nasir mengungkapkan bahwa ia berharap supaya Menteri dan jajarannya bisa melaksanakan tugas dengan baik, serta lebih sukses dalam memimpin Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional. Kemudian, Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Inovasi Nasional periode 2019-2024, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro dalam sambutannya menyampaikan bahwa meskipun nama Kementerian Ristek sudah dikenal lama sejak jaman Presidan Suharto hingga Habibie yang merupakan tokoh yang membangun dan membesarkan Ristek serta BPPT pada waktu itu, namun “Ristek yang sekarang terasa berbeda” ungkap Menteri Bambang, pembedanya  yaitu Undang-Undang Nomor 11 tahun 2019 mengenai Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Kenapa pemerintah menginginkan ada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)? Hal itu dikarena Presiden ingin kebiasaan lama dimana setiap lembaga tidak hanya LPNK di bawah Kemenristek tetapi juga diklat-diklat Kementerian dan rekan-rekan dari Universitas dalam melakukan penelitian itu cenderung sendiri-sendiri, dan karena kita tahu ada keterbatasan anggaran akhirnya kualitas penelitian itu menjadi terbatas bukan karena kualitas research tetapi lebih karena dana yang memang terbatas tadi, harus diganti dalam jumlah yang sangat besar sehingga akhirnya rekan-rekan di kampus yang mendapat hibah penelitian menjadi lebih repot menyelesaikan urusan laporan keuangan penelitian daripada benar-benar menyampaikan laporan akhir dari penelitian tersebut, sehingga akhirnya banyak dosen yang sebelumnya  tidak mengerti akuntansi menjadi hebat dalam bidang akuntansi, ungkap Menteri Bambang. Bambang menegaskan bahwa hal tersebut yang harus dihindari, harus ada perubahan dan harus ada rencana riset yang terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir, karena terkadang peneliti punya ide yang baik di hulu atau basic research tetapi kemudian rantainya putus, penelitiannya mungkin hanya sampai basic atau terapannya yang seharusnya penelitian itu menjadi inovasi atau bahkan menjadi produk yang nantinya bisa masuk di pasar. Kita ingin rantai yang putus itu tidak terjadi lagi di masa depan kita harus membuat rantai yang benar-benar bersambung satu sama lain dari hulu atau awalnya dari basic research-nya, terapannya, dampak, inovasi bahkan kalau bisa sampai menjadi sebuah produk, sebab hanya dengan itu Indonesia bisa maju. Menteri Bambang mengajak segenap warga dari Kemenristek untuk bersama-sama memikirkan bagaimana caranya agar BRIN bisa menyetarakan ekosistem yang melahirkan tidak hanya peneliti tetapi juga inovator, yang akhirnya bermanfaat bagi daya saing bangsa. Tugas BRIN sebagai bagian dari pemerintah harus bisa membawa  hasil riset untuk kepentingan masyarakat, tidak harus dengan  hasil riset yang luar biasa canggih, kadang-kadang harus low priced quality karena terkadang saudara-saudara kita yang ada di desa cuma butuh hal yang simple, misalnya bagaimana supaya tanamannya itu lebih produktif, kalau tanaman lebih produktif hasilnya lebih banyak harga jualnya membaik dia bisa keluar dari kemiskinan, ungkap Menteri Bambang. Jadi riset itu adalah yang benar-benar punya impact, sehingga hasil riset bermanfaat untuk masyarakat luas. Menteri Bambang diakhir sambutannya meminta jajaran eselon I dan II Kementerian Ristek/BRIN dan LPNK untuk mulai bekerja dan bergegas mengkoordinasikan BRIN itu sendiri sehingga BRIN itu tidak hanya sekedar ada atau sekedar formalitas memenuhi amanat Undang-Undang, Bambang ingin BRIN benar-benar berguna untuk riset dan inovasi di Indonesia .

Seusai kegiatan serah terima jabatan, Nasir sempat diwawancarai terkait kepemimpinannya selama lima tahun. “Saya rasakan dari segi positifnya Ristek dan Dikti memang pas tetapi di dalam pendidikan memang menjadi hambatan, yang menjadi masalahnya adalah kementerian ini menjadi blendid kemudian dipisah kembali, memang perlu kerja keras. Mudah-mudahan ini akan lebih baik, Dikti yang bergabung kembali dengan Dikbud dan Ristek bersama BRIN itu yang penting” ungkap Nasir. Terkait harapan, Nasir berharap kedepan setelah Ristek dan Dikti dipisah adalah harus ada lompatan. Jembatan yang sudah dibuat, sudah jadi tinggal kita harus take off karena terkait riset yang disampaikan oleh Menteri Bambang. ‘’Sebelumnya kami sudah siapkan namanya TRL (Technology Readiness Level), level 1-3 dasar, 4-6 terapan, 7-9 adalah inovasi dan pengembangan. Jadi, riset tidak boleh berhenti didasar saja, dasar kita didalam publikasi sudah bagus, tetapi dorongan untuk menjadi inovasi itulah yang menjadi tantangan kita. Sejak awal saya selalu sampaikan hilirisasi dan komersilisasi, selalu saya sampaikan riset tidak cukup hanya  publikasi tetapi bagaimana riset bisa menghasilkan dan bermanfaat bagi masyarakat’’ tambahnya. Diakhir wawancara, Nasir menyampaikan pesan untuk kemenristekdikti yang akan dipisahkan kembali. “Kebijakan Bapak presiden ini baik, mudah-mudahan bisa mengakselerasi karena nanti itu pekerjaan besar, Ristek  itu akan melakukan pekerjaan besar karena adanya RIRN tadi. Mudah-mudahan dengan RIRN, akan menjadi lebih baik.” Ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

 

SSS-MP