Indonesia Innovation for SME Workshop and Innovation Talks 2019

INDONESIA INNOVATION FOR SME WORKSHOP AND INNOVATION TALKS TAHUN 2019 DIGELAR

Tangerang Selatan, 3 Oktober 2019 – Rangkaian kegiatan Puspiptek Innovation Festival (PIF) 2019 diawali dengan pembukaan kegiatan Indonesia Innovation for SME Workshop and Innovation Talks pada Kamis (3/10) di Ruang Auditorium, Lantai 2 Gedung Graha Widya Bhakti (GWB), Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan. Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ainun Na’im, Chief Country Representative Indonesia – US – ASEAN Business Council Landry Subianto, Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Usaha, Mikro Kecil dan Menengah Rully Nuryanto, Kepala Puspiptek Sri Setiawati, Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti Wisnu S. Soenarso, Cisco Small Business Development Manager Yolla Efendi, Manager Commercial Ecosystem Planning PT HM Sampoerna Melissa Sutjiadi, Facebook Trainer Niko Atmadja, serta tamu undangan lainnya.

Dalam kegiatan ini, Ainun Naim menyampaikan dukungan pemerintah terhadap pengembangan startup dan produk hasil inovasi. “Puspiptek punya kegiatan Inkubasi Bisnis yang sifatnya kontinyu. Inkubasi bisnis dan pengembangan startup semuanya terkait satu sama lain. Startup ini dikembangkan, difasilitasi dalam periode tertentu dan setiap tahun kita evaluasi kemudian jika berkembang kita dukung terus selanjutnya dilepas untuk bisa berkembang secara mandiri”, Ungkap Ainun Na’im. “Di fesitival ini ada workshop, kemudian ada eksibisi-eksibisi, pertemuan-pertemuan diantara startup yang ingin menjalin kerjasama terkait dengan produk dan bisnis mereka”, imbuhnya.

Prof. Ainun Na’im, Ph.D, M.B.A.
Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Ainun Na’im

Perkembangan produk inovasi dan startup di Indonesia terjadi di pusat-pusat atau lembaga-lembaga penelitian termasuk di perguruan tinggi. Sekjen Kemenristekdikti memberikan contoh pengembangan produk inovasi berbagai jenis obat, kemudian alat-alat medik seperti Bone Substitute, alat pengganti tulang, kemudian juga alat stamp jantung, berbagai makanan dengan konten vitamin, juga berbagai tanaman dengan rekayasa tertentu sehingga bisa tumbuh di berbagai iklim atau bisa tahan hama. Kemudian kendaraan listrik, Gesit misalnya yang sekarang sedang berproses, pengembangan energi baru dan terbarukan sedang dikembangkan. Hilirisasi dilakukan dengan lembaga yang disebut dengan Science Techno Park (STP). “Jadi disitu ada fasilitasi, pendampingan, training, kemudian juga proses teknologi transfer, juga pengembangan kerjasama dengan industri”, pungkasnya.

Selanjutnya Ainun Na’im juga mengungkapkan pemasaran temuan atau produk inovasi ini tidak mudah, perlu investasi dan perlu dana besar untuk memproduksi secara masal, perlu tes dan uji yang melibatkan patner atau penemu inventor yang bisa mengerjakan itu, dan itu dikerjakan oleh STP. Sebelum menjadi STP yang memang kita katakan sempurna, kita kembangkan melalui pengembangan di Pusat Unggulan Inovasi.

Banyak produk-produk yang terkait dengan pengembangan bahan bakar harus di-support oleh industri dalam hal ini PT Pertamina. Kemudian ketika kita mengembangkan kendaraan lisrik itu juga perlu ada perusahan-perusahaan yang ikut mendukung. Kemudian di bidang Farmasi ada perusahan farmasi yang partnership dengan lembaga penelitian ataupun perguruan tinggi. Untuk perusahan-perusahan tersebut merupakan kombinasi, banyak juga perusahaan lokal atau BUMN dan juga Swasta Nasional. Hal ini dinamis dan tantangannya besar karena menghadapi kompetisi dengan pemain-pemain yang ada di pasar sekarang. Dari Temuan ke Produk kemudian masuk ke industri juga tidak mudah, tantangannya berat, dan dari startup ini tidak otomatis semua bisa sukses. Jadi harus punya kegigihan dan support capital yang cukup. Pemerintah memfasilitasi disatu sisi ada aspek fisik, infrastruktur, tempat kerja, pusat inkubasi, fasilitas kantor untuk startup, kemudian ada dana tetapi dana ini pada tingkatan tertentu harus di-match dengan swasta bersama-sama, tidak hanya dari pemerintah saja.

Dilain kesempatan, Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Usaha, Mikro Kecil dan Menengah Rully Nuryanto, S.E, M.Si menyampaikan saat ini masih ada tantangan yang harus dihadapi, seperti yang disampaikan oleh Cisco Asia Pasific Small and Medium Business Digital Index Tahun 2019 menyebutkan Indonesia masih tertinggal dari negara-negara termasuk di negara-negara Asia Pasifik dalam hal kesiapan transformasi digital. “Ini tentunya tantangan dan kegiatan workshop kali ini adalah bagian dari upaya meningkatkan peringkat Indonesia dalam hal kesiapan transformasi digital tersebut”, ungkap Rully. Ketika pelaku UKM atau usaha bisa memanfaatkan atau mengadopsi teknologi digital tersebut, hal ini bisa mendorong pertumbuhan UKM, pertumbuhan asset sampai 2 kali lipat atau lebih. Artinya ini penting dan harus menjadi perhatian kita semua. “Suka atau tidak suka, para pelaku UKM harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang terjadi dewasa ini. Karenanya inovasi merupakan kata kunci yang harus dipegang oleh semua pelaku UKM”, imbuhnya. Inovasi tanpa batas dan inovasi setiap saat. Dalam setiap dunia usaha saat ini, inovasi itu merupakan segala-galanya dan bisa melahirkan produk yang unik. Produk unik adalah awal dari daya saing.

Rully Nuryanto, S.E, M.Si.
Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Usaha, Mikro Kecil dan Menengah, Rully Nuryanto

Terkait daya saing, dalam index tingkat daya saing berdasarkan World Economy Forum Tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat ke-32. Jika dibandingkan dengan posisi Tahun 2018 berada di peringkat 43, artinya ada kenaikan 11 peringkat. Hal ini bisa terjadi antara lain karena upaya efisiensi di sektor pemerintahan, pembangunan infrastruktur, serta pengaruh situasi bisnis.

Menurut data Kementerian Usaha, Mikro Kecil dan Menengah, jumlah pelaku UMKM saat ini mencapai 63 juta lebih, bukan hanya jumlahnya yang besar tetapi juga ketersebarannya di seluruh wilayah Indonesia. Jika sektor UMKM mampu diberdayakan, kesejahteraan masyarakat akan meningkat bukan hanya disatu titik tetapi juga pemerataan di seluruh wilayah Indonesia. Berbagai Program kebijakan juga sudah akan dan terus dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Koperasi seperti pelatihan, pendampingan, kemudahan dalam mengakses modal usaha, serta pemasaran untuk membantu meningkatkan daya saing para pelaku koperasi dan UKM.

Di akhir paparannya, Rully menyampaikan selain inovasi, masih ada 4 hal lain yang harus menjadi perhatian para pelaku UKM terkait inovasi. Pertama adalah melakukan Branding. Kedua adalah Marketing Mix. Ketiga harus belajar manajemen dan Keempat bisa mengelola secara baik SDM yang dimiliki. Ketika berbicara tentang era Revolusi 4.0, tidak hanya bicara tentang persaingan diantara pelaku usaha. Justru di era ini kita bicara kolaborasi. Tidak ada satu entitas bisnis yang berdiri sendiri dan merasa tidak perlu bersinergi dengan pihak lain.

Indonesia Innovation for SME Workshop and Innovation Talks Tahun 2019 menghadirkan beberapa Narasumber yakni Yolla Effendi, Cisco Small Business Development Manager membawakan materi terkait Digital Transformation for SMEs; Melissa Sutjiadi, PT HM Sampoerna Tbk. Manager Commercial Ecosystem Planning, membawakan materi tentang SRC Program – Upscalling Retails Community through Integrated Platform to Boost Competitiveness; Niko Atmadja, Facebook Trainer memaparkan tentang Going Digital to Reach New Customers; dan Nugraheni Utami, Associate for SME Initiatives US – ASEAN Business Council membawakan materi tentang ASEAN SME Academy.

MAS & NC

DOKUMENTASI KEGIATAN