BENCHMARKING TO BEST PRACTICE PESERTA DIKLATPIM TK.III ANGKATAN I TAHUN 2019 DI KANTOR PEMERINTAH KOTA SURABAYA

Surabaya, 11 September 2019 – Peserta Diklatpim Tk.III Angkatan I Tahun 2019  mengunjungi Kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sebagai Locus Benchmarking to Best Practice dihari kedua. Berbagai inovasi yang dilakukan Pemkot Surabaya dalam membangun kota dan melakukan pelayanan kepada masyarakat merupakan alasan utama dipilihnya Kantor Pemkot Surabaya sebagai salah satu Locus Benchmarking. Pembangunan dan tata kota yang baik membuat Surabaya meraih penghargaan sebagai Online Popular City pada pagelaran Guangzhou International Award 2018. Tata kota yang baik tidak hanya diterapkan dibeberapa titik di kota Surabaya tetapi juga di Kantor Pemkot Surabaya yang ditata dengan rapi dan bersih sehingga membuat lingkungan kantor terlihat bersih dan nyaman.

Foto 1. Foto bersama di depan Kantor Pemerintah Kota Surabaya

Foto 2. Lingkungan kantor Pemerintah Kota Surabaya yang tertata rapi dan asri

Peserta Diklatpim yang berjumlah 40 orang dipimpin oleh Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti, Wisnu S. Soenarso, disambut dengan baik oleh Pemkot Surabaya yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum, Hidayat Syah. Dalam sambutannya, Hidayat Syah memaparkan beberapa inovasi yang dilakukan Pemkot Surabaya dalam membangun kota dan melakukan pelayanan publik yang terintegrasi dengan menerapkan e-government. Konsep yang dijalankan oleh Pemkot Surabaya tidak hanya sekedar e-government, tetapi sebagai salah satu kota yang menerapkan konsep smart city, parameter yang menjadi acuan yaitu smart people, smart living, smart government, smart economy, smart mobility, dan smart environment. Sehingga Pemkot Surabaya berupaya memberdayakan sumber daya manusia yang ada, mulai dari anak-anak hingga masyarakat lanjut usia untuk bisa diberdayakan melalui program-program yang ada. Untuk menanggulangi kemiskinan, Pemkot Surabaya menyediakan program pengembangan usaha, memfasilitasi kewirausahaan UMKM, dan membentuk lembaga pembinaan keluarga miskin. Untuk kaum difabel, Pemkot Surabaya melakukan pemberdayaan dengan mengembangkan talenta-talenta kaum difabel melalui karya-karya seni seperti lukisan dan kerajinan tangan. Untuk lingkungan, Pemkot Surabaya mengadakan program pengelolaan sampah dengan kegiatan reduce, reuse dan recycle melalui partisipasi publik. Angkutan umum seperti Bus Suroboyo disediakan oleh Pemkot Surabaya dan hanya dibayar dengan sampah yaitu dengan botol plastik bekas minuman, upaya ini dilakukan untuk mengurangi sampah lewat keterlibatan masyarakat. Upaya mengurangi sampah dan menciptakan lingkungan yang bersih juga dilakukan melalui kerja bakti rutin, bahkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak segan-segan untuk turun tangan untuk membersihkan sampah bersama-sama dengan masyarakat. Untuk mewujudkan smart city tidak hanya dibutuhkan tata kelola pemerintahan yang baik saja, akan tetapi butuh sinergi antara pemerintah dan juga masyarakat untuk mewujudkannya bersama-sama.

Foto 3. Papaparan Pemerintah Kota Surabaya

Setelah paparan dari pemerintah kota Surabaya, dilakuakn serah terima cindera mata antara Pusdiklat Kemenristekdikti dengan Pemkot Surabaya. Kemudian peserta dibagi kedalam empat kelompok masing-masing kelompok 10 orang. Peserta yang telah dibagi dalam kelompok tersebut, mengunjungi beberapa Locus yaitu Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), dan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau.

Foto 4.  Serah terima cindera mata

Dinas Komunikasi dan Informatika sebagai salah satu Locus visitasi peserta Benchmarking, memegang peranan penting dalam penerapan e-government di Pemkot Surabaya. Secara garis besar e-government di Pemkot Surabaya dibagi atas proses pengelolaan pembangunan daerah dan layanan masyarakat. Proses pengelolaan pembangunan daerah terdiri dari e-planning, e-budgeting, e-DPA, e-project, e-procurement, e-delivery, e-accounting, e-inventory, e-controlling, e-performance, e-monitoring, e-payment, e-surat, e-narsum, dan JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum). Sedangkan layanan masyarakat terdiri dari Surabaya Single Window (SSW), e-pendidikan, e-kios, e-112 Sistem Penanggulangan Bencana, BLC (Broadband Learning Center), e-health, Simprolamas (system informasi program layanan masyarakat), dan Sipandu. Masing-masing aplikasi tersebut saling terintegrasi, dan memudahkan pelayanan kepada masyarakat.

Foto 5. Visitasi di Dinas Komunikasi dan Informatika

Peserta yang melakukan visitasi ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) memperoleh banyak informasi penting terkait pelaksanaan tugas dan fungsi yang menjadi kewenangan daerah dibidang kepegawaian. Berdasarkan hasil visitasi di BKD Kota Surabaya dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan e-government melalui pelayanan aplikasi e-perfomance dan e-SDM yang meliputi rekrutmen CPNS, kenaikan pangkat, gaji berkala, pensiunan, mutasi, dan TEKO CAK (Tanda Kehadiran Online dan Catatan Absensi Karyawan) akan membuat pelayanan kepegawaian menjadi lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan cara pelayanan langsung atau tatap muka.

Foto 6. Visitasi di Badan Kepegawaian Daerah

Visitasi ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), peserta dikenalkan dengan layanan yang ada di Dispendukcapil yaitu surat pindah masuk, pindah keluar, akta kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian dan pelayanan lainnya. Hal itu mengakibatkan kantor Dispendukcapil ini menjadi penuh sesak oleh masyarakat yang melakukan pengajuan. Sehingga dibuatlah terobosan lewat inovasi 7 in 1 melalui aplikasi e-lampid yang menggabungkan beberapa fasilitas pelayanan kependudukan. Melalui aplikasi tersebut pelayanan tatap muka bisa digantikan lewat layanan yang terintegrasi, dan diakses secara online. Masyarakat yang mengurus keperluan kependudukan tidak perlu datang ke kantor lagi dan juga tidak perlu mengeluarkan biaya, alur kepengurusan dan waktu penyelesaian jelas, dan masyarakat dapat memonitor langsung prosesnya.

Foto 7. Visitasi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau mengusung konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) penyediaan fasilitas pengurangan sampah seperti rumah kompos dan TPST Super Depo Sutorejo, dan pengelolaan sampah dengan memberdayakan masyarakat yaitu pengolahan sampah dari sumbernya, Bank Sampah, Lomba-lomba kebersihan, dan Fasilitator Kebersihan. Inovasi yang dikembangkan yaitu pengelolaan sampah di pasar, pembangkit listrik tenaga sampah skala kecil, dan system SWAT (Solid Waste Transportation) yaitu manajemen system untuk memantau proses pengambilan sampah sampai ke tempat pembuangan akhir dengan mengimplementasikan aplikasi komputerisasi online yang terdiri dari modul TPA, modul BBM, modul rute, modul kendaraan, modul pengemudi dan modul izin retribusi.

Foto 8. Visitasi di Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau

 

SSS