SYSTEM THINKING BAGI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL

 

Frans Ade Nugraha membawakan materi System Thinking dihadapan peserta Latsar CPNS Golongan III Angkatan X Tahun 2019

25 Juli 2019 telah dilaksanakan Ceramah Muatan Teknis Substantif Lembaga bagi 40 Peserta Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) Golongan III Angkatan X di Lingkungan Kemenristekdikti. Kegiatan berlangsung di Ruang Auditorium, Kampus Pusdiklat Kemenristekdikti, Gedung 124 Kawasan Puspiptek Serpong. Hadir Frans Ade Nugraha dari United in Diversity sebagai Narasumber dalam kegiatan ini. Materi yang mengangkat cara berpikir sistem atau System Thinking mengundang ketertarikan peserta untuk memahaminya lebih mendalam. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta terlibat dalam pembelajaran.

System Thinking adalah sebuah kapasitas cara berpikir yang melihat kompleksitas dengan mengembangkan cara berpikir melihat variable-variabel di dalam sistem. Jika kita berbicara sistem, sistem definisinya adalah kumpulan dari variable-variabel yang mempunyai ketergantungan satu dengan yang lain. Jadi saat orang berpikir secara sistem, dia akan mempunyai ketertarikan untuk menganalisa variable-variabel apa di dalam sistem yang menggerakkan peristiwa itu terjadi. kita berbicara isu-isu yang sistemik yang terus terjadi berulang-ulang karena itu artinya sistem yang menggerakkan peristiwa it terus terjadi. Saat kita menghadapi situasi yang punya pola artinya kita tidak bisa menyelesaikannya dengan cara berpikir yang linier, kita harus berpikir secara sistem. Artinya, pertama melihat variable-variabel, kedua mengajak berpikir stake holder dalam sistem, itulah beberapa prinsip dalam berpikir sistem ungkapnya.

Terkait dengan peserta Latsar CPNS, Fras memberikan harapan yang luar biasa bagi angkatan muda dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. “Dengan rasa ingin tahu mereka yang sangat tinggi, membuat saya sangat hopefull mengenai perjalanan bangsa Indonesia kedepan, harapan saya mereka terus menjaga rasa antusiasme mereka ini berkontribusi kepada kemenristekdikti dalam perjalanan dan pertumbuhan nasional Indonesia ke depan”, sambungnya.

Ditemui di Ruang Kerja Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti, Frans meyakini bahwa perlu terjadi juga reformasi dalam mindset Aparatur Sipil Negara (ASN) kita. Ada dua hal utama yang saya harapkan mereka bisa bertransformasi. Pertama adalah cara berpikir, yaitu dari cara berpikir yang tidak berfokus pada tugas linear, mampu berpikir secara sistem artinya bisa dan memahami di level makro. Saat kita mempunyai kapasitas berpikir makro maka kerjasama dan kolaborasi itu akan jauh lebih mudah. Kedua adalah etos kerja, yaitu suka menerima tantangan. Frans mengungkapkan jika kita mampu melakukan reformasi birokrasi di level ASN dengan dua ini saja cara berpikir dan juga etos kerja, reformasi birokrasi itu otomatis akan terjadi sehingga pemerintah ke depan dalam membawa Inonesia kedalam masa keemasan di 2045 akan mulai menghasilkan akselerasi-akselerasi. Pembangunan kita memerlukan akselerasi dan terobosan dan itu terjadi bila ASN nya juga mau bertransformasi mampu berkolaborasi lintas divisi lintas sektor juga cara kerja, mampu melihat value dalam kerjasama atau partnership atau kolaborasi.

Di akhir wawancara, Frans memberikan quote-nya kepada peserta Latsar CPNS agar setelah melalui diklat di Pusdiklat Kemenristekdikti betul-betul mendadi agen perubahan, Pertama dengan membangun disiplin untuk menantang diri sendiri yaitu dengan membuat pertanyaan-pertanyaan yang mampu menggugah daya imajinasi. Kedua milikilah rasa ketertarikan untuk belajar. Untuk menghadapi tantangan anda harus belajar terus hal yang baru. Ketiga adalah mengasah karakter diri dengan istilah “can do character” yaitu karakter yang terus mencoba, mau terus mendorong diri untuk berkreasi. “Saya rasa itu disiplin yang saya harapkan terus mampu membuat anda menjadi orang yang memiliki nilai tinggi”, imbuhnya.

MAS

DOKUMENTASI KEGIATAN