MENCARI INSPIRASI DALAM MENYUSUN PROYEK PERUBAHAN, PESERTA DIKLATPIM IV ANGKATAN V MENGUNJUNGI BUKALAPAK

Jakarta, 18 Juli 2019 – Memasuki tahap komitmen bersama, Peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan V Tahun 2019 melaksanakan kegiatan observasi lapangan ke salah satu pusat perbelanjaan daring (online marketplace) terbesar di Indonesia, Bukalapak. Rombongan dipimpin langsung oleh Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti Wisnu S. Soenarso didampingi Kepala Bidang Penyelenggaraan Ruben Silitonga dan diterima langsung oleh Presiden Bukalapak Muhamad Fajrin Rasyid.

Wisnu mengucapkan terima kasih Bukalapak menerima dengan baik kunjungan ini. Wisnu menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan ini adalah untuk membuka wawasan akan dunia saat ini, dimana sebagian dari kita masih memiliki paradigma yang lama mengenai bagaimana kita dapat memiliki inovasi dan bagaimana kita bisa melayani. Peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan ini nantinya akan diminta untuk membuat rancangan proyek perubahan sehingga wawasan dan inspirasi yang didapatkan dari Bukalapak ini nantinya dapat dipraktekan ditempat kerja masing-masing.

 Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti memberikan sambutan

  Widyaiswara Bambang Sutedja, Kepala Bidang Penyelenggaraan Ruben SIlitonga, President Bukalapak Muhamad Fajrin Rasyid dan Kepala Pusdiklat Wisnu S Soenarso berfoto setelah memberikan plakat Pusdiklat

Bukalapak didirikan tahun 2010 oleh Muhamad Fajrin Rasyid, Achmad Zaky, dan Nugroho Herucahyono atas fenomena perdagangan elektronik atau E-Commerce yang sangat berkembang di luar negeri. Indonesia saat itu belum memiliki E-Commerce yang proper, sehingga pada Januari 2010 Bukalapak hadir dan memiliki komitmen untuk membangun Indonesia melalui pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan pemanfaatan teknologi. Sembilan tahun berjalan, Bukalapak konsisten berupaya memperluas literasi digital dan membangun UKM sehingga saat ini Bukalapak merupakan salah satu online marketplace terkemuka di Indonesia yang memiliki 1,6 juta mitra, 4 juta pelapak, dan 50 juta pengguna. Tahun ini, Bukalapak menduduki peringkat ketiga Unicorn di Indonesia.

Bukalapak memikiki 5 nilai atau culture yang biasa mereka sebut dengan “Our 5 Keys Empowering Indonesia” yaitu; Go The Extra Mile, Gotong Royong, Customer Obsessed, Speak Up dan Try, Fail and Try Again dimana Bukalapak selalu melakukan improve dan memberikan service yang terbaik kepada customer, melakukan pekerjaan bersama-sama, mengedepankan pelanggan, berani mengutarakan ide dan gagasan, dan pantang menyerah terus mencoba dan mencoba. Nilai atau culture tersebut yang membuat Bukalapak bisa bertahan ditengah maraknya start up saat ini.

Bagi Bukalapak selain nilai dan culture tersebut aset terbesar perusahaan adalah karyawan. Dalam sambutannya, Fajrin mengatakan jika dia melihat selama 9 tahun Bukalapak hadir dan kedepannya, Perguruan Tinggi memiliki peranan yang sangat penting. Karena salah satu tantangan dalam mengembangkan E-Commerce atau teknologi harus berbicara tentang talent atau talenta. Banyak perusahaan yang membuka kantor atau research center di luar negeri dikarenakan talenta yang dibutuhkan tidak banyak sehingga membutuhkan talenta dari luar. Di Bukalapak sendiri sampai saat ini baru memiliki tidak sampai 5 orang Expatriat. Bukalapak juga banyak bekerjasama dengan Perguruan Tinggi dan kampus-kampus untuk merekrut talenta-talenta baru dan bekerjasama dengan PPI untuk merekrut pelajar-pelajar Indonesia yang saat ini bekerja di luar negeri untuk kembali dan bekerja pada Bukalapak.

 Muhamad Fajrin Rasyid, President Bukalapak menceritakan awal mula berdirinya Bukalapak

Meskipun demikian, hal itu belum bisa menjawab persoalan. Bukalapak masih membutuhkan kolaborasi yang lebih dalam antara Bukalapak selaku pelaku industri dengan Perguruan Tinggi maupun dengan Kemenristekdikti. Hal tersebut agar kedepannya banyak talenta-talenta yang relevan dengan Revolusi Industri 4.0. Bukalapak mengharapkan kedepannya lebih banyak Universitas yang menjawab tentang kebutuhan talenta dan hal-hal seperti artificial intelligence dapat diperdalam lagi di Perguruan Tinggi. “Pada intinya, buat Bukalapak sendiri itu adalah hal yang sangat penting dan sangat dibutuhkan dalam Revolusi Industri 4.0. Karena kita berharap kita tidak hanya menjadi pasar atau pengguna saja, pengguna dari tools yang bukan milik kita. Saya selalu bilang teknologi yang paling canggih itu bukan jenis teknologinya, teknologi yang paling canggih adalah yang bisa menyelesaikan masalah sesuai dengan konteks yang dibutuhkan masing-masing” ujarnya.

  Peserta dan Panitia berfoto bersama tim Bukalapak

Saat ini Bukalapak juga memiliki kerjasama strategis dengan Pemerintah berupa BukaKota, BukaBike, BukaPublik, Cashless Payment, Buka Pengadaan, Penggerak Pelapak, Komunitas Bukalapak, Mitra Bukalapak, dan BukaGlobal. Bukalapak mengajak Pemerintah untuk bersama merangkul dan memberikan panggung bagi para UKM penggerak roda ekonomi di setiap daerah, agar keistimewaan tiap daerah semakin jelas terlihat, sekaligus menginspirasi dan menyadarkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang hebat.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Fajrin juga menambahkan mengenai harapannya setelah adanya kunjungan ini. “Mudah-mudahan kolaborasi ini dapat memberikan insight in general atau pandangan secara garis besar kira-kira teknologi dan implementasi dalam E-Commerce seperti apa dan mudah-mudahan tercipta berbagai inovasi yg spesifik dengan lingkungan kerja masing-masing” tutupnya.

 

                                                                                                                                                                             NC