SEKRETARIS JENDERAL KEMENRISTEKDIKTI SAMPAIKAN ISU-ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV (Diklatpim IV) Angkatan IV Tahun 2019 di Kampus Pusdiklat Kemenristekdikti yang berlangsung dari Tanggal 6 Februari hingga 18 Juni 2019. Kegiatan ini diikuti oleh Peserta Eselon IV dari Lingkungan Kemenristekdikti berjumlah 40 orang yang terdiri dari 12 orang dari Unit Utama Kemenristekdikti (Biro Keuangan dan Umum Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal Kelembagaan, Iptek dan Dikti, Pusat Data dan Informasi Iptek Dikti, Biro Hukum dan Organisasi Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal, dan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan) dan 28 orang dari Perguruan Tinggi antara lain Universitas Negeri Semarang, Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, Universitas Jenderal Soedirman, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Universitas Negeri Padang, Universitas Terbuka, Universitas Jambi, Universitas Negeri Padang, Universitas Bengkulu, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Negeri Makassar, Universitas Tanjungpura, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Jember, Universitas Sulawesi Barat, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Sebelas Maret, Universitas Tidar, Universitas Negeri Malang, Universitas Andalas, Universitas Tadulako, Universitas Riau, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Timor, Universitas Diponegoro, Universitas Pattimura, dan Universitas Airlangga.

Diklatpim IV Angkatan IV Tahun 2019 dibuka oleh Wisnu S. Soenarso, Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti. Dalam amanat pembukaan, Wisnu menyampaikan bahwa tujuan Diklatpim IV ini untuk menjadikan peserta pemimpin perubahan sesuai dengan reformasi birokrasi. Setiap orang harus memiliki inovasi masing-masing sebagai proyek perubahan serta sebagai syarat kelulusan. Proyek perubahan harus memuat Reformasi Birokrasi dan Revolusi Industri 4.0. Kepala Pusdiklat juga berpesan kepada peserta jadilah pemimpin perubahan yang melayani. Seluruh peserta diminta membentuk tim efektif untuk mengkomunikasikan proyek perubahan. Komunikasi itu penting bagi pemimpin. Seluruh peserta berasal dari latar belakang yang berbeda, dituntut untuk membangun networking satu dengan yang lain. Peserta juga diberi kesempatan untuk berolahraga agar tetap bugar megikuti pelatihan. Setiap peserta wajib mematuhi peraturan yang berlaku karena akan dinilai salah satunya dari sisi sikap dan perilaku peserta diklat. Kepala Pusdiklat meminta peserta untuk aktif dalam pembelajaran, karena keaktifan di dalam kelas juga menambah nilai peserta. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Pusdiklat disertai dengan pengalungan tanda peserta. Kegiatan pembukaan di akhiri dengan pemberian ucapan selamat kepada seluruh peserta oleh Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti didampingi oleh Kepala Biro Keuangan dan Umum Kemenristekdikti, plt. Biro Hukum dan Organisasi Kemenristekdikti, Kabid Penyelenggaraan, Widyaiswara, dan Pejabat Struktural Kemenristekdikti.

Pada pembekalan materi Strategi dan Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur Sipil Negara, Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Prof. Ainun Na’im, Ph.D., M.B.A. berkenan hadir memberikan arahannya bahwa fokus Isu-Isu Strategis Pembangunan Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi terkait dengan Revolusi Industri 4.0 dan Reformasi Birokrasi. Perubahan akibat kemajuan teknologi menyebabkan cara kerja berubah. Kemudian orang harus menemukan kesempatan baru, menemukan skill baru. Sehingga ia dapat mengerjakan atau memenangkan kesempatan baru seperti yang terjadi sekarang ini. Tantangan dalam Rencana Jangka Menengah Kemenristekdikti ke depan, yaitu bagaimana membuat peta tentang kebutuhan tenaga kerja di masing-masing bidang dan mendesain Pendidikan Tinggi yang lulusannya bisa bekerja. Planning perlu dilakukan dengan membuat prediksi-prediksi tentang masa depan.

Beberapa isu yang dipaparkan oleh Ainun Na’im pertama, dalam manajemen internal kantor kita terlalu banyak tergantung pada proses. Outcome atau hasilnya kurang begitu mendapat perhatian. Presiden kita sudah mengkritisi ini bahwa Rencana Kerja dan Anggaran itu harus berdasarkan outcome (program oriented). Di Perguruan Tinggi kata kunci yang paling penting adalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ipteks). Kemudian yang berperan penting dalam kaitannya dengan Tri Dharma dan Iptek yaitu Civitas Akademika dalam hal ini Dosen dan Mahasiswa. . “Jika kita ingin meningkatkan daya saing di perguruan tinggi, orientasinya pada hasil, hasilnya seperti apa, pekerjaan selesai, kita meluluskan mahasiswa tepat waktu, kompetensinya tinggi, penelitiannya banyak, dan inovasinya banyak”, imbuhnya. Saat ini, Kemenristekdikti sedang menyusun sistem elektronik office yang bisa terintegrasi (integrated) dengan model persuratan atau arsipnya. Secara ideal yang kita inginkan tidak perlu lagi ada ekspedisi surat menyurat kertas. Sebagian sudah kita praktekkan sebagai contoh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) sudah tidak lagi mengeluarkan sertifikat akreditasi dalam bentuk surat. Sertifikat bisa dicetak oleh prodinya sendiri karena pemanfaatan teknologi digital signature

Isu kedua terkait tidak terserapnya lulusan sarjana kependidikan karena jumlah lulusan sarjana pendidikan tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang ada sehingga miss match. Prodi-prodi akademik dan sosial lebih banyak dibandingkan prodi-prodi vokasi. Sekarang kementerian mulai membenahi dengan merevitalisasi pendidikan vokasi serta membatasi prodi-prodi sosial. Saat ini teknologi-teknologi baru muncul mengubah berbagai cara atau ekonomi masyarakat ke arah ekonomi baru, seperti: Internet of Things, Artificial Intelligence, New Material, Big Data, Robotics, Augmented Reality, Cloud Computing, Additive Manufacturing 3D Printing, Nanotech and Biotech, dan Genetic Editing. Berkaitan dengan itu kita harus mengubah kurikulum kita. Pada mata kuliah dasar kita masukkan aspek-aspek data literasi (Data Literation), teknologi literasi (Technology Literation) dan literasi manusia (Human Literation).

Pada akhir sesi mata diklat ini, Ainun Na’im menjelaskan bahwa anggaran kemenristekdikti terbatas. “Saya mengajak seluruh pihak untuk memanfaatkan anggaran yang terbatas ini untuk mengejar ketertinggalan. Karena jika tidak maka kita akan semakin tertinggal”, imbuhnya. Ainun Na’im menekankan satu hal kepada seluruh peserta Diklatpim IV yang mungkin bisa dipertimbangkan atau menjadi perhatian ketika membuat tugas akhir membuat proyek perubahan yaitu bagaimana menyederhanakan proses ditempat kerjanya atau memperpendek proses sehingga lebih efisien tapi berorientasi pada hasil yang baik.

M.A